Breaking

Post Top Ad

Iklan Anda Disini

Jumat, 07 September 2018

Bung Hatta, Pemikir Berlian Nusantara.


KIMSEKAPUKWIN - Ketika Soekarno, Sang Putra Fajar, sudah mendekati detik-detik akhirnya, prediksi dan ramalan Bapak Koperasi ini menjadi benar-benar terbukti.
Bahwa kekuasaan yang dibina Soekarno atas dasar politik Demokrasi Terpimpin tidak akan bisa bertahan lama dan hanya akan sampai dan berakhir dengan usia penggagasnya.
Ketidakakuran kedua tokoh besar ini dalam haluan politik, tidak lantas menjadikan keduanya bermusuhan secara pribadi.

Perbedaan prinsip pada pemikiran dan gagasan Indonesia yang berdaulat, menjadikan keduanya berseberangan secara politik. Bung Hatta yang anti korupsi dan lebih fokus pada kesejahteraan seluruh warga negara dengan prinsip otodanya (baca : federalisme) bertentangan 180 derajat dengan Bung Karno yang lebih fokus pada politik mercusuarnya.
Negarawan, visioner, cinta pada negerinya, sederhana, tidak gila jabatan, itulah cerminan yang bisa dilihat dari tindak tanduk Bung Hatta. Inilah salah satu contoh negarawan sejati negeri ini.

Bung Hatta terkenal sebagai pribadi yang amat sederhana. Sebagai seorang pejabat negara, ia seorang yang jujur dan bersih, serta hidup hemat. Jika melakukan kunjungan ke luar negeri, ia hanya membawa satu kopor ketika berangkat, dan satu kopor pula waktu pulang. Tidak pernah lebih dari itu. Saking sederhananya, ketika sudah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden Rl dan menjadi pensiunan, ia hampir saja tidak mampu membayar langganan air minum dan membayar iuran pembangunan daerah.
Meskipun berbeda pandangan dengan Bung Karno berikut kutipan kata-kata beliau yang sungguh mencerminkan seorang yang sangat arif dan bijaksana.
"... Bagi saya yang lama bertengkar dengan Soekarno tentang bentuk dan susunan  pemerintahan yang efisien, ada baiknya diberikan fair chance dalam waktu yang layak kepada Presiden Sukarno untuk mengalami sendiri, apakah sistemnya itu akan menjadi suatu sukses atau suatu kegagalan ...."
Jika Soekarno terkenal sangat berapi-api, orator ulung dan juga seorang kopick (keras kepala) yang tidak mau tunduk dengan kemauan Amerika Serikat, Bung Hatta sebaliknya adalah seorang ekonom luar biasa yang memiliki visi dan pemikiran besar untuk mengangkat derajat kemakmuran dan perekonomian warga negara dan bangsa ini menjadi lebih makmur dan sejahtera dari sebelumnya.

Kejeniusan dan kelihaian beliau dalam masalah ekonomi tercemin dalam buku-buku yang sudah ditulisnya sedemikian banyak (kurang lebih 30 ribuan buku). Ide dan gagasan koperasi yang compatible dengan karakter bangsa Indonesia. Rancangan UUD 1945 yang beliau ikut sebagai think thank nya adalah sebuah bukti bahwa pemikir besar ini adalah aset luar biasa negeri ini.

Bukan hanya itu, kesahajaan dan kejujuran hatinya yang merupakan hasil didikan dari seorang ulama besar Naqsabandiyah, ayahanda beliau sendiri adalah warisan berharga baik bagi bangsa maupun negara ini. Mental anti korupsi Bung Hatta yang sudah terbina sejak kecil dari hasil didikan ulama sufi berakhlak mulia yang tak lain adalah ayahanda beliau sendiri, merupakan sebuah cermin, contoh, role model beginilah seharusnya seorang pemimpin bangsa itu adanya.

Rela mengundurkan diri sebagai wakil presiden, bukan perkara mudah. Lebih berat lagi setelah beliau mengundurkan diri, aktivitas akademisinya juga ikut di blok dan didegradasi oleh kawan seperjuangannya sendiri. Namun, sungguh luar biasa, itu tidak menjadikan beliau dendam dan sakit hati.

Kurangnya contoh dan role model dalam bidang pemerintahan yang efisien agar terhindar dari benalu sosial bernama korupsi, kolusi dan nepotisme ini mutlak membutuhkan aksi dengan contoh. Memberi contoh dengan perbuatan. Membutuhkan true role model bagi bangsa ini, bahwa kejujuran dan kesederhanaan serta mau berbagi bagi sesama, tidaklah harus menjadi konglomerat terlebih dahulu. Hiduplah sederhana namun bahagia dan bisa membahagiakan orang lain.

Pemberantasan korupsi yang belum maksimal, lalu tidak melakukan radikalisasi pemikiran borjuis serta emoh hidup dalam kesederhanaan, adalah tantangan sebenarnya dalam memerangi perilaku korupsi yang sudah kadung akut di negeri ini. Pola pikir, mindset, berfikir kaya raya dan banyak uang sehingga menjadikan uang, jabatan dan kekuasaan hanya sebagai tujuan, mutlak perlu diradikalisasi dan diubah menjadi konsep pemikiran sederhana dan bersahaja. Pola pikir agar kesejahteraan itu merata bagi semuanya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jujur, saya pribadi masih memiliki harapan besar itu, pemikiran Bapak Koperasi ini suatu saat akan terjadi. Jika negara lain bisa, kenapa Indonesia tidak? Jika Korea Selatan bisa naik derajat begitu cepat, kenapa Indonesia tidak? Indonesia menjadi no.1 di Asian Game di Huangzhou? Bisa. Dengan persiapan dan komitmen yang besar tidak ada yang tidak mungkin. You become what you believe (Oprah Winfrey)

Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja
lurus yang tabung
waktu yang tepat berdentang
janji yang tunai
kalimat yang ringkas padat
tata hidup yang hemat
Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta
Pada stelan jas putih dan pantalon putihnya
Simbol perlawanan pada disain hedonisme dunia
Tidak sudi berhutang
Kesederhanaan yang berkilau gemilang

(Taufiq Ismail, penggalan sajak “Rindu pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta”, 2014)

Bumi Sekapuk, 07 September 2018
RR


Tidak ada komentar:

Posting Komentar